Minggu, 22 Mei 2016

Bukan Puisi

Ini bukan puisi, sayang. Tetapi bila kau lebih lihai membaca buku, maka rupa-rupa di dalam dada saya adalah buku puisi yang paling kausukai. Ambil gitarmu, dan bernyanyilah tentang tubuhku. Kubiarkan dirimu menjelma kepala nahkoda kapal. Buang petamu, kau tak butuh itu untuk menaklukan samuderamu, tertanda aku.

Ini bukan kopi, sayang. Tetapi bila kau lebih menyukai kopi tanpa gula, maka rupa-rupa luka di tubuhku barangkali mampu membuatmu lupa terlelap. Seduh kopimu, dan biarkan aku melayang-layang di udara sebagai kepulan asap yang menari. Temui aku di setiap pagimu, baik yang baik maupun buruk. Bawa aku ke dalam kamarmu. Rebahkanku di sisimu, di samping kiri ranjangmu. Kecup aku sekali lagi. Teguk sampai kau merasa bahwa hari ini akan berjalan semestinya. Seolah lelahmu mati pada ciumanmu yang kali pertama kepadaku. Kutuklah dunia di sekitarmu sambil perlahan menikmati aku yang masih tenggelam di dasar cangkir kopi pagimu.

Ini bukan jendela, sayang. Tetapi bila kau lebih menyukai jendela yang luas di lantai paling atas, maka jadikan aku sebagai tempat kau melihat seluruh dunia. Menjelajahi kota masa kecilmu. Menjerajahi petualangan. Kau akan melihat gunung menjulang tinggi, sungai yang mengalir sejernih airmata bayi, dan hutan belantara yang membuat kita tersesat. Kau juga akan menemukan hangat pelukan ibumu, atau ayahmu, atau kekasih masa lalu yang kau rindukan. Di sini, padaku, kau akan melihat matahari datang dan pergi. Kau akan menyaksikan bagaimana komposisi waktu menciptakan dan melenyapkan senja kesukaanmu. Ingat-ingat…kisah siapa yang ikut dilenyapi?

Ini bukan rumah, sayang. Tetapi bila kau merindukan kampung halamanmu, datanglah kemari. Lepas penat, dan topeng yang kaukenakan seumur hidupmu. Di sini, padaku kau bisa telanjang bulat untuk benar-benar dicintai. Lupakanlah kopi yang melukai rinai lembut air di matamu. Pura-pura tenggelam dalam pahit, mematikan nalarmu untuk merasa manis, sayangku. Di sini, padaku kau tak perlu puisi, kopi, atau sebuah jendela untuk melihat dunia. Kau hanya perlu lihat ke dalam ke dalam mataku. Dan segala yang kau cari berada di sana...

Jakarta, 22 Mei

Kamis, 12 Mei 2016

Hanya Ingin Sepi

Terkadangan tak ada salahnya merayakan sepi dibalik meriahnya dunia
Setiap jiwa butuh menyepi dari keramaian
Menikmati dunia tanpa suara selain suara nafasnya sendiri
Menonton bayangan yang menghantui bersama mimpi buruk
Mencicipi getir hidup meski besok tak tahu apalagi kejutan yang datang mengetuk

Setiap orang mempunyai sisi gelap yang disimpan baik-baik dalam rupa yang tak tampak
Tak semua orang perlu tahu
Karena bersama gelap, rasa aman tersimpan baik tanpa gangguan

Sunyi, senyap, dan sepi
Perihal kotak kosong dalam hidup manusia
Merasa terasing pada pijakan sendiri
Bertahan tanpa insang di bawah samudera

Jangan pernah tanyakan, kenapa senyumku sering kupalsukan. Karena luka, telah melatihnya demikian.

Jakarta, 12 Mei



Rabu, 11 Mei 2016

Adalah Saya

Saya sering berjalan memutar menemui kesendirian. Bukan karena kesepian, tapi terkadang membutuhkan waktu untuk berkencan dengan diri sendiri yang sering terabaikan. Dalam sendiri, saya dan diri ini terasa lebih dekat. Tak ada topeng yang selama ini saya kenakan ketika berada di sekeliling orang-orang. Dalam sendiri hanya ada kejujuran. Menelanjangi bisu yang gaungnya lantang dalam hati dan pikiran.

Saya paling malas ketika ditanya soal cita-cita dan masa depan. Maka dari itu, biasanya saya tidak pernah menjawabnya. Tapi, hampir satu bulan ini saya hampir gila memikirkan masa depan. "Mau jadi apa?", "Apa iya aku berguna?", "Aku bisa apa memangnya?", dan masih banyak lagi, khawatir terlalu banyak nanti jadi buku.

Begitulah kira-kira yang menghantui kepala saya selama sebulan ini. Soal cinta hanya bagian kecil saja. Bahkan tak sampai 20%. Semua itu bikin kepala saya menjadi paling sumpek sedunia. Mulut saya jadi yang paling cerewet sedunia. Saya merasa jadi orang yang paling bodoh karena melakukan apa saja tak bisa. Soal passion. Ah! Itu apalagi. Saya bahkan tak tahu apa yang saya sukai. Tapi akhirnya saya sadar, sebenarnya yang saya jalani adalah proses, dimana saya akan menemukan siapa sebenarnya diri saya. Lucu memang, bahkan saya tidak mengenali diri saya sendiri. Bayangkan!

Saya mencari jati diri, dengan melakukan ini dan itu, dengan mempelajari ini dan itu. Banyak salahnya memang. Apalagi ketika buku-buku motivasi sudah jadi basi buat saya saat ini. Saya mencari jati diri di tumpukan buku-buku sastra. Buku-buku Agama. Ada titik cerah disana. Dimana saya tahu harus bagaimana, harus melakukan apa, untuk menjadi apa. Kini kepala saya sudah mulai kosong. Dan akan saya isi dengan hal-hal yang saya sukai. Mulut dan jari saya sudah bisu, akan berusaha berbicara jika perlu. Mata saya sebisa mungkin digunakan untuk membaca dan melihat hal-hal baik, kemarin, hari ini, dan sampai saya mati.

Entah apa yang saya tulis kali ini, bukan puisi. Hanya ingin menasehati diri, karena hidup tidak melulu cinta. Hidup harus diisi konsistensi. Mau jadi apa kedepannya dimulai dari apa yang dilakukan hari ini.

Ahh sudahlah!

Jakarta, 11 Mei

Senin, 09 Mei 2016

Nama Saya,........

Di sini, saya duduk di muka pintu,
teras di hunian saya, memandang cakrawala merah senja
semembara letupan hasrat saya semasa muda dulu.
Angin semilir-milir menyentuh tubuh saya
yang tua merenta,
menemui ingatan-ingatan lalu,

meneteslah air mata saya,
melihat diri saya kini.

Dulu saya pejuang, orang-orang mengelu-elukan saya,
menyebut diri saya; perayaan demokrasi.
Itu dulu.
Air mata kembali menetes. Membasahi kerah kemeja saya, dari kepala yang merunduk, malu.

Semasa muda, saya hidup di jalan-jalan.
Mengerubungi rezim-rezim yang menyayat kebebasan,
mengupas wajah busuk yang disimpan rapi dalam lemari penguasa,
memangkas habis jeruji-jeruji yang memenjarakan kebebasan.

Seluruh manusia di negeri tercinta, larut dalam diri saya,
menyatu dengan bara api di dada saya; sisa semangat yang kini memadam.
Bersama-sama, bermesra-mesraan saling merayakan kebebasan;
adakah yang lebih bebas daripada burung di luar sangkar? Ada. Yaitu saya, dan orang-orang yang mencintai saya.

Mereka berteriak, mereka bercerita dengan suara lantang,
mirip pidato presiden pertama kita.
Yang membara, yang meletup-letup sebuah harapan
untuk Ibu tercinta.
Ah, saya rindu…

Itu dulu. Saya beri tahu kepadamu,
itu dulu, tak lebih dari kata masa lampau.

Lalu kemudian,

tahun-tahun seperti orang-orang di senin pagi,
begitu terburu-buru beranjak.
Bekeluarga dan melahirkan masa kini, yang begitu lebih buruk daripada penjara di rezim dahulu.
Ia begitu berani meremat wajah saya yang sudah keriput dan menua ini.

Angin lebih jahat daripada suara panik orang-orang ketika rumahnya dijarah,
dirampok, suaminya ditembak, istrinya diperkosa, atau anak-anaknya ditemukan mati di jalan-jalan.
Angin sekejam Ibu kota. Ia meniupkan desas-desus tentang saya.
Saya yang tak ada dosa, dibilang dosa.
Saya yang tak berduit, dibilang kayaraya.
Saya yang ingin merayakan, dibilang ingin membunuh.
Ah, sungguh aduhai masa kini dan angin yang bersekongkol, demi membuat nama saya
lebih buruk daripada tersangka korupsi.

“Jangan kau dekati dia, dia meresahkan warga!” padahal dulu warga yang mencintai saya.
“Jangan dekati dia, dia provokator!”
“Jangan-jangan dia membayar antek-antek untuk merusuh di jalan.”

Aduhai sungguh pandai masa kini dan angin itu,
membisikkan apa yang tidak saya lakukan, demi terjaganya wajah busuk
dalam lemari penguasa.
Membuat buta orang-orang yang dulu mengelukan saya dengan pemujaan yang tak berkesudahan.

“Teriakkan kebebasan!”
“Maju terus, jangan gentar!”
“Gas air mata, peluru-peluru karet tidak akan membunuhmu!”
“Senjata-senjata api tidak seapi semangatmu, Bung!”
Ah, itu kata-kata yang dulu menyerukan nama saya.
Kata-kata api yang mampu membakar tubuh saya di jalan-jalan.

Dulu. Dulu sekali.
Jauh dari hari ini.

Jauh sebelum saya dibenci.

Ah, sampai mana tadi?
Oh, ya. Saya belum memperkenalkan diri.
Nama saya, Demonstrasi.

—-Jakarta, 09 Mei

Puisi ini untuk menggambarkan kondisi sekarang mengenai demonstrasi yang telah mengalami pergeseran makna. Demonstrasi bukan lagi sebagai toa untuk menggerakkan massa menjadi aktif dalam membongkar ketidak benaran dalam negeri ini, tetapi demonstrasi diartikan sebagai tindakan ricuh yang meresahkan masyarakat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tanyakan saja pada stasiun-stasiun Tv yang sering kau tonton itu.

Minggu, 08 Mei 2016

Love Me Like You Do

Seperti biasa, setiap hari aku akan menuliskanmu surat yang akan menumpuk menjadi link-link yang tak pernah kaubuka sama sekali.
Namun biarkanlah si bodoh ini tetap mengukiri aksara walau kepala rasanya pening akibat mengingatmu terlalu banyak, dan mencoba melupakanmu dengan banyak minum kopi. Oh what a fool me, melupakanmu dengan minum kopi? lol.

Belakangan ini, aku entah mengapa tergila-gila dengan lagu Love Me Like You Do-nya Ellie Goulding. Bila mendengar lagu itu pastilah tubuhku seperti kesurupan disco dancer, tangan menari-nari ke udara, tubuh berdansa mengikuti aliran tempo yang bersemangat, dan kepalaku seperti yang sudah-sudah; mengingatmu dalam ingar-bingar musik yang menyumbat telinga. Entah mengapa, setiap lirik yang kudengar bisa melayangkan ingatanku kepadamu. Setiap larik indah jatuh cinta seraya membuatku mengenangmu kembali, mengingat debar dan hangat yang sempat mampir di dadaku.

You’re the light, you’re the night
You’re the color of my blood
You’re the cure, you’re the pain
You’re the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much

Kau ialah cahaya, kau ialah gelap, kau ialah warna dalam darahku; merah; cinta. Ah, lirik yang merayu, berkobar-kobar dengan rasa jatuh cinta yang membara. You’re the cure, you’re the pain, kau  ialah penyembuh, dan kau juga derita yang ditawarkan sekaligus dalam satu waktu. Ironis. Dan mencintaimu sama ironisnya dengan lirik lagu ini. Ya, jatuh cinta denganmu ialah penyembuh luka masa laluku, kemudian kau menawarkan aku luka lagi. Kau obat sekaligus penyebab sakit. Ah, ironis bukan?
You’re the only thing I wanna touch, ya lebih ironis lagi ketika engkau masih satu-satunya orang yang masih ingin kusentuh, padahal seharusnya tidak. Dan aku seharusnya jangan sekali-sekali mencoba menyentuhmu. Kau duri mawar, dan aku ialah yang tak gentar ingin menggenggammu kuat-kuat.
Never knew that it could mean so much. Aku tidak pernah tahu mengapa mencintaimu bisa sedemikian berarti banyak untukku. Sedemikian gila.

You’re the fear, I don’t care
Cause I’ve never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life

Kau ialah ketakutanku, di mana seharusnya cinta tidak tumbuh dariku untukmu. Cinta ini hanya benalu yang menempel pada dahan tubuhmu. Ada, dan mengganggu. I don’t care. Aku tidak peduli. Terdengar egois? Ya, memang benar adanya demikian. Aku tidak mau memunafikan diriku lebih jauh sebab aku tidak dapat membohongi diri lagi, aku tidak pernah merasa setinggi ini ketika mengenalmu. I’ve never been so high. So let me high, baby.
Follow me to the dark. Ikuti aku ke dalam gelap. Cintai aku dengan semestinya.
Let me take you past our satellites. Ayo jabat tanganku kembali, dengan belajar mencintaiku, aku akan mengajakmu keliling ruang angkasa, melalui beragam planet, rasi bintang, dan satelit-satelit di angkasa raya. Dan kau akan melihat sesuatu yang pernah kaubawa dalam hidupku; ribuan bintang, cahaya, dan matahari. Ya, seluruh keindahan angkasa raya pernah engkau bawa ke kehidupanku yang gulita. Kau bawa lagi gemerlap itu, lalu kembali pergi, kembali meninggalkan gelap..

Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find
Only you can set my heart on fire, on fire

Loving you can brought me to the edge of paradise. Mencintaimu bisa membawaku ke tepian surga duniawi. Ah, surga duniawi. Ternyata, aku bisa menemukan surga di dunia ini selain kopi dan cokelat hangat yang mampu meleburkan duka menjadi senyuman hanya dalam satu sesapan saja, yaitu engkau. Kau.
Every inch of your skin is a holy grail I’ve got to find. Gila! Setiap inci tubuhmu ialah kesucian manusiawi yang pernah kutemui. Lagu ini benar-benar penuh oleh lirik rayuan!.
But damn! The last line of those lyric; only you can set my heart on fire. Yeah, only you can set my heart on fire and burning my heart inside. Ironic. Ironic. Ironic,

Yeah, I’ll let you set the pace
Cause I’m not thinking straight
My head spinning around I can’t see clear no more
What are you waiting for?

I let you set the pace. Cause i’m not thinking straight. Ya. Aku tidak bisa berpikir waras lagi bagaimana ini bisa terjadi begitu gilanya kepadaku. Rasanya seperti mabuk kepayang! My head spinning around I can’t see clear no more.
What are you waiting for? Apa yang kau tunggu?

Love me like you do, love me like you do
Love me like you do, love me like you do
Touch me like you do, touch me like you do

love me like you do
let me be your favorite mistake

So, What are you waiting for?

Depok, 21 Desember

Demokrasi Kebablasan

Blas! Blas! Blas!

brengsek, anjing, bajingan!
itu kritik bung, bukan makian!
kritik terus pemerintahan!

Blas! Blas! Blas!
tulis berita menikam!
sebar kambing hitam!
presiden takkan naik pitam!

Blas! Blas! Blas!
fitnah, maki, sampai mati!
sampai naik gaji!
demi mendapat sesuap nasi!

Blas! Blas! Blas!
fitnah terus, pantang mundur!
kita takkan dibredel lagi!
tenang, era kita, era demokrasi kebablasan!
(Untuk media-media massa dan penulis-penulis yang mengenakan topeng demi tujuan politik, terutama untuk Jonru.)

Jakarta, Pasca Pilpres 2014

Mereka Bilang, Saya Pikir

Mereka bilang,
Mereka tiang
Pemerkasa keadilan

Saya pikir,
Pemerkasa, Pemerkosa?

Mereka koyak habis lapis-lapis
Dalam tubuh keadilan
Menodai nama sang agung

Mereka bilang,
Kebenaran dipanggul
Dua pundak mereka

Saya pikir,
Kebenaran, kemunafikan?

Mereka bungkam bibir-bibir kebenaran
Mereka beri toa pada mulut-mulut berbisa

Ah, mereka bilang
Begini, begitu
Demi mengkibar nama baik

Ah, saya pikir
Begini, begitu
Percuma busuk nama tlah tercium

Mereka bilang,
Mereka begini, begitu
Ah, saya pikir
Mereka begini, begitu

Kalibata, 18 Februari 2015
Menyinggung kebusukan di balik KPK VS POLRI yang masih sengit di layar telivisi. Mumet ndasku, bung!